BANDUNG – Presiden Joko Widodo kembali menekankan agar
percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kalimantan Utara
(Kaltara) segera direalisasikan. Penegasan ini disampaikan langsung oleh
Presiden kala bertemu dengan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie di Bandung,
Kamis (22/2).
Seperti yang biasa dilakukan Gubernur, tak sekedar hanya
mengikuti agenda kegiatan inti, Irianto selalu mengambil kesempatan untuk
memanfaatkan demi kepentingan kemajuan Kaltara.
Di sela-sela mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas)
Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Bandung, kemarin
misalnya. Kala bertemu langsung dengan Presiden, Gubernur berkesempatan
melaporkan tentang progress program-program utama di Kaltara. “Ada beberapa hal
saya sampaikan saat bertemu Bapak Presiden tadi. Antara lain masalah penerbitan
Inpres (Instruksi Presiden) percepatan pembangunan Kota Baru Mandiri (KBM)
Tanjung Selor yang kini draftnya sudah ada di Kemendagri. Kemudian juga saya
laporkan progress pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai
Kayan, Bulungan,” kata Gubernur usai bertemu Presiden.
Terkait perkembangan pembangunan PLTA Sungai Kayan, kata
Gubernur, laporan yang disampaikan kepada Presiden terkait realisasi
pembangunan bendungan saat ini masih terkendala penerbitan izin konstruksi yang
kewenangannya ada di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Alhamdulillah,
saat itu juga bapak Presiden langsung meresponsnya. Dengan memanggil Menteri
PUPR Basuki Hadimuljono, untuk segera menyelesaikannya. Alhasil atas instruksi
Presiden itu, Menteri PUPR yang juga ada dalam diskusi itu, akan mengagendakan
pertemuan dengan jajaran Pemprov Kaltara pada Kamis (1/3) pekan depan,” papar
Irianto lagi.
PEMERINTAH DAERAH DIMINTA BERSINERGI
Sementara itu, dalam kegiatan Rakernas APPSI, disampaikan
Gubernur, Presiden menginstruksikan agar jajaran pemerintah daerah saling
mendukung dalam penguatan ekonomi nasional. “Menurut Presiden, salah satu upaya
membangkitkan ekonomi nasional adalah dengan melihat peluang komoditas ekspor
di masing-masing daerah,” ujar Irianto di Ballroom Trans Luxury Bandung.
Presiden, kata Irianto lagi, juga menekankan terkait
perkembangan investasi di Indonesia. Disebutkannya, saat ini investor tengah
antre untuk masuk menanamkan modalnya di Indonesia. Namun yang menjadi
persoalan adalah regulasi yang menjadi faktor penghambat.
“Karena itu, Presiden meminta agar seluruh instansi baik di
pusat maupun daerah untuk memangkas regulasi yang dianggap menjadi penghambat.
Supaya dapat bergerak cepat menumbuhkan tren positif perekonomian kita,”
jelasnya.
Oleh sebab itu, lanjutnya, Presiden menginstruksikan kepada
para gubernur agar memberikan target kepada kepala dinas untuk memangkas
birokrasi. Hal ini, kata Irianto sudah diterapkan oleh Presiden kepada jajaran
kementerian. “Memangkas peraturan sebanyak-banyaknya, agar investor yang
berniat masuk ke Indonesia tidak terhambat oleh sistem birokrasi,” sebut
Irianto.
Selain itu, yang menjadi sorotan gubernur se-Indonesia adalah
perihal kerja sama antar daerah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sehingga perlu ada regulasi berupa Inpres untuk memudahkan kerjasama tersebut.
“Jika melalui Inpres, pasti ada penugasan bagi kementerian terkait. Kalau
ekonomi daerah kuat, maka ekonomi nasional kuat,” ujarnya.
Sebab kebijakan daerah juga menentukan kekuatan negeri ini.
Karena itu, penguatan komitmen antar daerah menjadi landasan untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi nasional. “Misalnya, kebutuhan logistik harus saling
bersinergi. Dan ini harus dilegitimasi oleh Presiden,” ujarnya. Sebab selain
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dampak lainnya adalah dapat
pendapatan dan kesempatan kerja.
Sehingga kerjasama tersebut akan memberikan dampak saling
menguntungkan bagi daerah dan nasional. “Makanya secara prinsip, kerjasama akan
memberikan bonafide kedua belah pihak. Prinsipnya bagaimana kita melakukan
kerjasama semakin baik,” kata Gubernur.
Untuk itu, melalui regulasi berupa Inpres tersebut diharapkan
konektivitas antar daerah dalam pendistribusian bahan logistik, baik ekspor
maupun impor bisa terealisasi. “Sehingga perdagangan tidak hanya berfokus pada
barang primer, tetapi juga sekunder dan tersier,” tuntasnya.(Humas Prov.Kaltara)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar