JAKARTA - Menteri Koordinator
(Menko) Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan meminta agar realisasi Kawasan
Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning - Mangkupadi di
Kalimantan Utara (Kaltara) dipercepat. Bahkan diharapkan tahun ini sudah ada perusahaan
yang mulai membangun konstruksi calon pabriknya.
Salah satu investor yang
diharapkan bisa mempercepat realisasi investasinya adalah PT Indonesia Asahan
Alumunium atau Inalum (persero). Perusahaan BUMN ini diminta oleh Menteri Luhut
untuk mempercepat realisasi investasinya di Kaltara. Dalam hal ini di KIPI
Tanah Kuning. "Ini (KIPI) sudah berulang kali kita bahas. Bahkan sudah
hampir 2 tahun, tapi tak juga terealisasi. Saya minta tahun ini sudah ada
jangkarnya yang memulai. Inalum bisa itu," kata Luhut dalam forum rapat
membahas progres pembangunan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi di Ruang Rapat Lantai
II Kantor Kemenko Maritim, Selasa (5/6).
Selain meminta perusahaan agar
segera merealisasikan rencana investasinya, dalam kesempatan itu Luhut juga
minta agar segala keperluan untuk mendukung percepatan KIPI bisa segera
dilakukan. Seperti sarana infrastruktur maupun kegiatan perencanaan dan
studi-studi lainnya. Mengenai pendanaan, lanjutnya, nanti akan di-support dari
pusat. Apakah itu melalui dana hibah dari Pemerintah Tiongkok maupun melalui
dana loan atau pinjaman.
Di tempat sama, Direktur Utama PT
Inalum Budi Gunadi Sadikin yang hadir dalam pertemuan itu menyatakan, pada
prinsipnya Inalum serius untuk ekspansi ke Kaltara. Diakui, desakan juga
disampaikan oleh Menteri Perindustrian agar Inalum segera merealisasikan
investasinya di Kaltara.
Budi mengatakan, progres rencana
investasi Inalum di Kaltara sudah pada tahap penyusunan Pre Feasibility Studi
(FS) yang sudah dilakukan sejak tahun lalu. "Harapannya bulan ini sudah
selesai. Setelah itu kita lanjutkan dengan penyusunan FS untuk industri
smelternya," kata Budi.
Dalam penyusunan FS, lanjut Budi,
PT Inalum melibatkan konsultan internasional dari luar negeri. Salah satunya
dari Kanada. "Kita juga telah mengajukan izin prinsip untuk industri
smelter ke pemerintah daerah, temasuk izin prinsip untuk rencana kita membangun
PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)," ungkapnya.
Dikatakan, selain membangun
industri smelter di lahan seluas kurang lebih 600 hektare di KIPI Tanah Kuning,
PT Inalum juga berminat membangun PLTA dengan kapasitas 1.700 Megawatt yang
nanti diintegrasikan ke industrinya. "Kita bangun PLTA 1.700 Megawatt
karena menyesuaikan kebutuhan industri smelter yang kita targetkan 1,5 juta ton
nanti," jelas Budi.
Sementara itu, dipimpin langsung
oleh Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan, Selasa (5/6) kemarin kembali
dilaksanakan pertemuan membahas progres kawasan industri yang masuk dalam
Proyek Strategis Nasional (PSN), sesuai Perpres No. 58 Tahun 2017 tersebut.
Ada tiga hal utama yang dibahas
dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) Thomas T Lembong, serta pejabat eselon I dari beberapa kementerian
terkait itu. Di antaranya, persoalan status lahan KIPI, Badan Usaha Pengelola
Kawasan Industri, serta mengenai usulan PT Inalum (persero) yang berkeinginan
membangun PLTA sendiri. "Seperti saya sampaikan sebelumnya, tadi juga
kembali saya jelaskan soal status lahan. Status lahan KIPI di dalamnya ada
beberapa areal milik perusahaan yang sudah lama memang mengantongi izin HGU
(Hak Guna Usaha). Ada PT BCAP, Delma Mining, PT Kayan Plantantion dan beberapa
lainnya. Terkait hal ini, kami dari Pemerintah Provinsi sudah melakukan upaya.
Salah satunya dengan secara intens mengadakan pertemuan bersama pihak
perusahaan. Pada intinya, perusahaan-perusahaan di sana sangat mendukung,"
kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie yang juga hadir dalam pertemuan
tersebut.
Kemudian soal pengelola kawasan
industri, dikatakan Irianto, sudah ada beberapa perusahaan yang berminat.
Bahkan ada yang telah mengajukan permohonan izin ke Kementerian Perindustrian.
Perusahaan-perusahaan dimaksud, adalah PT Indonesia Strategis Industri (ISI),
Dragon Land, PT Kayan Patria Propertindo, PT Adidaya Suprakencana. Juga
disebutkan, ada Albassam, serta Inalium.
Dari beberapa perusahaan
itu, ada tiga yang telah mengajukan perizinan ke Kementerian Perindustrian.
Bahkan untuk PT ISI yang sudah mengantongi surat dukungan dari Gubernur, telah
melengkapi persyaratannya di Kementerian Perindustrian.
Sementara informasi dari pihak
Kementerian Perindustrian, ada tiga perusahaan yang sudah dalam proses
pengajuan perizinan melalui sistem informasi online di Kementerian
Perindustrian. Yaitu PT ISI dan Dragon Land (baru mendaftar) dan PT Adidaya
Suprakencana. "Jadi sekarang sudah dalam proses di Kementerian
Perindustrian. Tadi juga Pak Thomas (Kepala BKPM) siap membantu percepatannya.
Ditargetkan dalan satu-dua bulan ini sudah ada badan usaha pengelolanya.
Bahkan, Pak Menko Maritim tadi minta kalau bisa, dalan satu bulan sudah
selesai," tegas Irianto
Dalam pertemuan itu, Gubernur
menyampaikan masukan, untuk badan usaha pengelola ini, seyogianya dilakukan
oleh beberapa perusahaan dalam bentuk konsorsium. "Namun keputusan nanti di
Kementerian Perindustrian," ujar Irianto.
Selanjutnya menanggapi soal
usulan PT Inalum yang akan membangun PLTA, Gubernur mempersilakan kepada
perusahaan BUMN tersebut untuk melakukan prosedurnya. "Silakan saja, kita
terbuka dan transparan. Kalau memang ada lokasi yang pas dan ada potensi,
silakan lakukan survei dan menurus perijinannya," kata Gubernur .
Untuk lebih detail teknisnya,
kata Gubernue perlu ada pembahasan lebih lanjut. Mengenai hal ini, akan kita
bicarakan lebih lanjut. Apakah nanti bekerja sama dengan perusahaan yang sudah
proses akan membangun PLTA atau bagaimana. "Dalam rapat tadi dapat diambil
kesimpulan, Menko menginginkan percepatan realisasi KIPI. Diminta agar
diupayakan tahun ini sudah dimulai pembangunan konstruksi industri. Begitupun
dengan PLTA-nya. Paling tidak ada satu perusahaan yang sudah mulai. Dan
harapannya, tadi Pak Menko minta PT Inalum, selaku BUMN yang akan
memulainya," kata Irianto.
Sebelum menutup rapat, Menko
Maritim menjadwalkan rapat kembali soal KIPI Tanah Kuning-Mangkupasi di Kaltara
pada awal Juli mendatang. Diharapkan dalam sebulan ke depan sudah ada progres
lebih maju lagi
Sementara itu, usai rapat di
Lantai II Kantor Kemenko Maritim, Gubernur didampingi beberapa kepala OPD
terkait di Lingkup Pemprov Kaltara dan juga Wakil Bupati Bulungan Ingkong Ala,
melanjutkan pertemuan dengan perwakilan perusahaan yang memiliki izin lahan di
KIPI.
Hadir dalam kesempatan itu, ada
perwakilan dari PT BCAP dan PT Delma. Pertemuan ini sebagai tindak lanjut dari
pertemuan sebelumnya. Yaitu membahas soal lahan yang nantinya akan menjadi
kawasan industri.
"Saya menyampaikan agar
nantinya dari pertemuan-pertemuan ini ada solusi terbaik, yang pada dasarnya
jangan sampai ada yang dirugikan. Artinya perusahaan tidak rugi, dan program
KIPI tetap jalan seperti yang kita inginkan," kata Gubernur singkat.
(humas)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar